Fairbanc Perluas Akses Pinjaman Bagi Ritel Berskala Kecil yang Sulit Dapat Modal Kerja

Fairbanc telah meraih investasi pra-Seri A senilai puluhan juta dari ADB Ventures, unit bisnis Asian Development (ADB) yang menyalurkan pinjaman atau modal ventura, Accion Venture Lab, East Ventures, Michael Sampoerna Group, dan beberapa investor lain.

Pendanaan ini melengkapi sejumlah investasi sebelumnya yang diperoleh Fairbanc dari 500 Startups dan miliuner asal Indonesia Michael Sampoerna. Lewat pendanaan ini, Fairbanc akan memperluas akses pinjaman bagi peritel berskala kecil di Indonesia yang sebagian besar kesulitan mendapatkan modal kerja.

Menurut perkiraan Bank Dunia, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia memiliki kebutuhan pinjaman senilai US$166 miliar yang belum terpenuhi. Untuk itu, Fairbanc bermitra dengan kalangan perusahaan Fast-Moving Consumer Goods (FMCG) berskala besar guna menawarkan opsi pascabayar (pay-later).

Opsi ini tersedia lewat penentuan skor kredit yang didukung kecerdasan buatan (AI) agar keputusan pemberian pinjaman mikro dilakukan secara instan. Pinjaman ini sangat bermanfaat bagi kalangan peritel yang belum terjangkau layanan perbankan atau kurang memanfaatkan layanan perbankan. Berkat pinjaman ini, kalangan peritel mikro bisa menambah pendapatannya dengan persediaan barang yang lebih banyak.

Menurut Pendiri dan CEO Fairbanc, Mir Haque, Dibandingkan sejumlah penyedia teknologi finansial (tekfin) lainnya, Fairbanc lebih unggul sebab terintegrasi dengan jaringan gerai merek konsumer yang tersebar luas, seperti Unilever.

Dengan demikian, Fairbanc dapat menawarkan opsi pinjaman ‘Buy Now Pay Later’ kepada puluhan ribu peritel tanpa memakai aplikasi kredit atau ponsel pintar. Setelah terintegrasi dengan aplikasi distribusi produk milik sejumlah merek, Fairbanc bisa mengakses histori pemesanan dan pembayaran gerai-gerai tersebut.

Lewat integrasi ini, Fairbanc memanfaatkan ilmu data dan machine learning dalam penyaluran pinjaman, dan meningkatkan penjualan gerai-gerai sekaligus mencegah kasus gagal bayar serta menghemat biaya operasional.

Sejak terbentuk pada 2019, Fairbanc telah bermitra dengan kalangan perusahaan FMCG berskala besar, termasuk Unilever, L’Oréal, dan Danone. Fairbanc membantu UMKM meningkatkan omzetnya hingga lebih dari 35%, dan menjaga tingkat kredit macet hingga mendekati nol.

“Fairbanc memberdayakan dan mendukung masa depan peritel kecil yang menjual produk-produk Unilever. Sebagian besar di antaranya terdiri atas kaum perempuan,” kata Francisca Ho, Head, Customer Development Finance, Unilever Indonesia. Misi Fairbanc dalam inklusi keuangan “sesuai dengan target Unilever untuk meningkatkan mata pencaharian jutaan masyarakat dan  pertumbuhan bisnis.”

Memiliki hampir 60.000 peritel dalam jaringannya, Fairbanc akan memakai investasi baru ini guna memperluas mitra-mitra distributor, serta memperkuat tim penjualan dan teknologinya. Fairbanc juga tengah mengembangkan sistem rekomendasi produk dengan fitur-fitur baru, termasuk notifikasi yang membantu peritel merencanakan persediaan barang demi mengantisipasi kondisi cuaca sebagai aspek berisiko tinggi di Indonesia.

“Fairbanc telah membuktikan kiprahnya dalam mengatasi kesenjangan keuangan bagi banyak peritel kecil di Indonesia,” kata Daniel Hersson, Senior Fund Manager, ADB Ventures. “Fairbanc menguasai keunggulan dalam pembiayaan inventori dan memiliki pemimpin berpengalaman. Dengan demikian, Fairbanc memiliki daya saing yang baik di segmen tekfin. Fairbanc pun menjadi mitra penting dalam misi kami, yakni mempercepat inklusi keuangan dan mendukung daya tahan iklim di Asia Pasifik.”

“Pandemi masih belum berakhir di Indonesia, dan peritel mikro sangat rentan terimbas dampak ekonomi dari pandemi. Fairbanc mengatasi kesenjangan akses kredit bagi kalangan pelaku usaha tersebut. Dengan kehadiran Fairbanc, mereka terbantu mengelola gerai dan menjaga mata pencahariannya,” jelas Michael Schlein, President & CEO, Accion.

“Setelah mengintegrasikan produk mereka dengan kanal-kanal distribusi produk yang menjadi mitra usaha, Fairbanc mempermudah para peritel mikro untuk mengakses solusi pembiayaan inventori yang sangat dibutuhkan. Kiprah Fairbanc sangat sesuai dengan misi kami dalam mendukung tekfin inklusif. Kami ingin terus bekerja sama dengan tim Fairbanc guna menjangkau lebih banyak pelaku usaha mikro dan kecil di Indonesia,” ujar Paolo Limcaoco, Investment Officer, Asia Tenggara, Accion Venture Lab.

“Dukungan yang diberikan untuk Fairbanc selaras dengan misi kami dalam mewujudkan inklusi keuangan bagi jutaan gerai yang belum terjangkau layanan perbankan di Indonesia. Kami optimis bahwa Fairbanc mampu mempercepat adaptasi pembiayaan rantai pasokan barang di Asia Tenggara,” kata Melisa Irene, Partner, East Ventures.

Mir Haque menjabat CEO Fairbanc. Dia sebelumnya bekerja di McKinsey & Company, Deutsche Bank, dan Adobe, sementara, Kevin O’Brien menjabat Chief Technology Officer. O’brien sebelumnya menjadi CTO platform kredit mikro Kiva. Siswanto Hadiprayitno menjabat Head, Operations, Fairbanc. Hadiprayitno berpengalaman selama lebih dari 20 tahun dalam bidang penjualan dan sempat menjabat posisi eksekutif di sejumlah perusahaan Indonesia, termasuk Unilever Indonesia, Mead Johnson Indonesia, dan Tiga Raksa Satria.

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Scroll to Top